Monday, December 10, 2012

OSEANOLOGI PENDAHULUAN


Laporan praktek lapangan
OSEANOLOGI PENDAHULUAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri dari 17.508 pulau yang membentang 5.120 km dari timur ke barat sepanjang khatulistiwa dan 1.760 km dari utara ke selatan. Luas daratan negara indonesia mencapai 1.9 juta km2 dan luas perairan laut tercatat sekitar 7,9 juta km2. Indonesia juga mempunyai garis pantai sepanjang 81.791 km ( terpanjang kedua setelah kanada). Mengingat perairan pantai pesisir merupakan perairan yang sangat produktif, maka panjangnya pantai Indonesia merupakan potensi Sumber Daya Alam (hayati) tang besar untuk pembangunan ekonomi negara ini.
Di lain pihak arah pembangunan  nasional yang selama ini lebih berorientasi ke arah daratan menyebabkan terabaikannya potensi dan sumber daya laut terutama sumber daya hayati sehingga pulau-pulau kecil yang berjumlah lebi9h dari 10.000 buah selama ini kurang mendapat sentuhan pembangunan karena sumber daya alam daratannya terbatas. Padahal dilihat secara fisik, kawasan perairan puylau kecil memiliki sumber daya kelautan yang melimpah yang dapat dikembangkan mejadi daerah tujuan wisata bahari. 
1.2  Tujuan
Tujuan dilakukannya praktek lapangan ini adalah :
1.             Untuk mengetahui kondisi pantai berdasarkan aspek geologi, fisiska, kimia dan biologi.
2.             Untuk mengetahui dan mengamati secara langsung kondisi pantai khususnya pantai Tanjung Bayang yang mengalami abrasi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Aspek Geologi
Pantai Tanjung Bayang terletak di di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pantai Tanjung Bayang merupakan salah satu tempat wisata yang berada di Kota Makassar yang seringkali menjadi pilihan untuk berwisata dimana bentangan pasir pantai cukup luas serta di sepanjang pesisir pantai terdapat tanaman mangrove. Di pantai ini juga banyak terjadi abrasi dan banyak terdapat enceng gondik dan alga (Litaay, 2008).
Tipe substrat pantai terdiri dari warna pasir hitam dan pasir putih. Pasir warna hitam menandakan bahwa pasir tersebut banyak mengandung mineral-mineral logam. Sedangkan pasir putih menunjukan bahwa mineral logam yang dikandungnya sedikit (Litaay, 2008).
B.  Aspek Fisika
Gelombang yang ditemukan di permukaan laut pada umumnya terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut. Gelombang ini merambat ke segala arah membawa energi tersebut yang kemudian dilepaskannya ke pantai dalam bentuk ombak. Rambatan gelombang ini dapat menempuh jarak ribuan kilometer sebelum mencapai suatu pantai. Gelombang yang mendekati pantai akan mengalami pembiasan (refraction), dan akan memusat (convergenc) jika mendekati semenanjung, atau menyebar (divergence) jika menemui cekungan.
BAB III
METODEOLOGI PENELITIAN

III.1 Waktu dan lokasi
            Lokasi yang di tempati untuk pengamatan praktek lapang yaitu Tanjung Bayam di Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Makassar yang dimulai pada pukul 07.30 sampai 13.00 WITA.
III.2 Cara pengamatan
            Prosedur kerja dalam praktek lapangan ini adalah :
       1.      Pilihlah daerah atau lokasi yang akan diamati.
       2.       Buatlah tabel hasil pengamatan.
       3.      Catatlah hasil pengamatan pada tabel pengamatan tersebut.
III.3 Parameter yang diamati
            Adapun parameter yang diamati yaitu :
      A.    Aspek Geologi
1.    Morfologi pantai.
2.    Tipe substrat.
      B.     Aspek Fisika
1.      Gelombang
2.      Pasang surut gelombang
3.      Kecerahan
      C.  Aspek Kimia
           1.  Salinitas
           2.  Suhu
           3.  Oksigen yang terlarut
           4.   Ph
      D.  Aspek Biologi
           1.  Jenis Biota




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil

ASPEK GEOLOGI

KETERANGAN





MORFOLOGI PANTAI




TIPE SUBSTRAT                     

Pantai berupa teluk dengan tanjung yang panjang, daratan pantai ada yang berbukit akibat dari pasir-pasir yang telah mengeras yang membentuk suatu bukit-bukit.

Terlihat di sepanjang pantai terdapat banyak pasir yang berwarna hitam dimana hal ini menunjukkan bahwa pasir tersebut banyak mengandung mineral logam.

ASPEK FISIKA



GELOMBANG











PASANG SURUT





KECERAHAN


Gelombang yang terjadi umumnya dipengaruhi oleh pergerakan angin di permukaan laut sehingga energi yang akan dibawa oleh gelombang akan dilepaskan ke pantai dalam bentuk hempasan ombak. Sehingga, adanya gelombang ini akan mengakibatkan abrasi yang berdampak pada perubahan-perubahan dartan di sekitar pantai serta bangunan-bagunan yang ada di sekitarnya.

Pasang surut sangat mempengaruhi naik turunya permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari.

Kecerahan air laut sangat dipengaruhi oleh cuaca dimana apabila cuaca cerah maka tingkat kecerahan air laut sangat nampak karena banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terlarut dalam air.

ASPEK KIMIA



SALINITAS









SUHU








OKSIGEN YANG TERLARUT

Ph
Salinitas merupakan konsentrasi rata-rata garam yang terdapat dalam air laut dimana tingkat salinitas ini sangat dipengaruhi oleh komposisi yang ada di sekitar pantai/daratan (batu-batuan) yang mengandung unsur-unsur tertentu dan mineral sehingga akan bercampur dengan air laut.

Suhu suatu badan air sangat dipengaruhi oleh musim sehingga perubahan suhu yang terjadi sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatilisasi.

Semakin tinggi dari peningkatan suhu di laut maka penurunan kadar oksigen di laut makin tinggi.

Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi dalam suatu perairan seperti proses nitrifikasi yang akan terhenti aktivitasnya apabila suhu rendah.
ASPEK BIOLOGI



JENIS BIOTA 



Umumnya jenis biota yang ditemukan berupa tanaman mangrove yang terdapat di pesisir pantai serta di temukan pula tumbuhan enceng gondok. Serta tumbuhan alga/rumput laut yang terdapat dalam perairan, hal ini terlihat di sepanjang pesisir pantai terdapat rumput-rumput laut yang mati dan telah kering.
CATATAN LAIN







Untuk daerah Tanjung Banyang ini, banyak telah mengalami perubahan-perubahan dan umumnya diakibatkan karena adanya gelombang tinggi sehingga menyebabkan proses abrasi serta aktifitas-aktifitas manusia dengan banyaknya bangunan-bangunan yang di bangun serta adanya suatu ekosistem mangrove.

IV.2 Pembahasan
            Pantai Tanjung Bayang terletak di di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pantai Tanjung Bayang merupakan salah satu tempat wisata yang berada di Kota Makassar yang seringkali menjadi pilihan untuk berwisata dimana bentangan pasir pantai cukup luas serta di sepanjang pesisir pantai terdapat tanaman mangrove. Tipe substrat pantai menunjukkan warna pasir hitam yang menandakan bahwa pasir tersebut banyak mengandung mineral-mineral logam.
Apabila ditinjau dari aspek fisikanya adanya suatu gelombang umumnya selalu ditemukan dipermukaan laut yang terbentuk akibat adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut sehingga semakin tinggi angin maka semakin mempengaruhi terjadinya gelombang dan dampak yang ditimbulkan sampai ke areal pesisir pantai. Gelombang yang terjadi akan merambat ke segala aarah yang membawa enargi tersebut kemudian dilepaskan ke pantai dalam bentuk hempasan ombak. Sebagai contoh akibat yang ditimbulkan adanya gelombang besar ini yaitu terjadinya abrasi sehingga lokasi daratan yang dahulunya meluas sekarang makin menyempit bahkan bagunan-bangunan yang ada disekitar pantai pun sekarang telah berubah posisinya dan telah mengalami kerusakan. Serta adanya pasang surut juga sangat mempengaruhi hal ini, dimana pasang surut merupakan fenomena naik turunnya permukaan air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari. Tipe-tipe pasang surut terdiri atas :
1.      Pasang surut tipe harian tunggal yaitu bila dalam waktu 24 jam terdapat 1 kali pasang dan 1 kali surut.
2.      Pasang surut tipe harian ganda yaitu bila dalam 24 jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut.
3.      Pasang surut tipe campuran yaitu bila dalam 24 jam tardapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau condong ke tipe harian ganda.
          Untuk kecerahan suatu air laut sangat ditentukan oleh keadaan cuaca dan kekeruan yang terjadi menggambarkan suatu sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Warna suatu air  dikelompokkan menjadi dua yaitu warna sesungguhnya dan warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut. Warna sesungguhnya adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut dan warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut tetapi juga bahan tersuspensi.
            Ditinjau dari aspek kimia, salinitas yang ada pada air laut sangat tergantung pada komposisi yang ada di daratan (batu-batuan) yang mengandung mineral atau logam maka apabila bercampur dengan air laut maka salinitasnya tinggi. Salinitas merupakan jumlah berat semua gram (dalam gram) yang terlarut dalam satu kilogram air laut. Pada air laut konsentrasi garam-garam jumlahnya relatif sama dalam setiap contoh-contoh air laut. Oleh karena itu untuk menghitung salinitas air laut ditiap daerah dapat digunakan alat salinometer tetapi secara biasa untuk menentukan salinitas adalah dengan menghitung kadar klorida yang ada dalam contoh air laut karena dianggap klorida adalah komponen yang paling penting dan jumlahnya paling banyak dimana kandungan klorida ditetapkan sebagai jumlah gram ion pada suatu kilogram air laut, dengan menganggap semua halogen ekivalen dengan klorida. Semakin rendah penguapan maka slainitas menjadi rendah tetapi sebaliknya semakin tinggi penguapan maka tingkat salinitas juga meningkat atau tinggi. Salinitas air berpengaruh  pada produksi, distribusi dan lamanya hidup ikan serta orientasi migrasi. Sedangkan  suhu yang mempengaruhi air sangat tergantung oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman air laut. Perubahan suhu ini sangat berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan biologi. Peningkatan suhu akan mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air, misalnya gas O2, CO2, N2, CH4 dan sebagainya. Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen yang terlarut sehingga keberadaan oksigen sering klai tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organism akuatik untuk melakukan proses metabolisme dan respirasi. Sedangkan untuk faktor pH, sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah dimana pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi pada pH rendah tetapi algae masih dapat bertahan hidup pada pH rendah.
            Pada aspek biologi, jenis biota yang umunya yang ditemukan yaitu umumnya di sepanjang pesisir pantai banyak terdapat tanaman mangrove yang mendominasi serta terdapat pula enceng gondok serta tumbuhan rumput laut yang dijumpai di tepi pantai yang telah mati dan mengering.





BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
            Dari Praktek Lapang yang di lakukan di Tanjung Bayang maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Untuk menetukan aspek geologi, aspek fisika, aspek kimia dan aspek biologi digunakan parameter morfologi pantai, tipe substrat, gelombang, pasang surut, kecerahan, salinitas, suhu, oksigen yang terlarut, pH dan jenis biota yang terdapat dalam suatu perairan.
2.    Faktor-faktor fisik yang mempengaruhi berubahnya suatu areal pantai yaitu adanya suatu gelombang yang akan mengakibatkan abrasi serta banyaknya bangunan-bangunan dan ekosistem mangrove.
V.2 Saran
            Sebaiknya lebih diefektifkan praktek lapangnya dan penjelasannya lebih diperjelas, sehingga mahasiswa dapat memahami tujuan diadakannya praktek lapang.



OSEANOLOGI PENDAHULUAN


PERBEDAAN LAMUN DAN MAKROALGE

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah Alga dan lamun. Alga dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu Makroalga (Rumut Laut) dan Mikroalga (Fitoplankton). Alga terutama jenis makroalga (Rumput Laut) merupakan salah satu jenis komoditas yang memiliki nilai ekonomi pasar yang kompetitif baik di pasaran dalam negeri maupun ekspor. Hal ini disebabkan karena rumput laut selain berfungsi sebagai makanan juga karena diversifikasi produk rumpur laut yang memiliki banyak kegunaan.
Lamun atau rumput laut adalah anggota tumbuhan berbunga yang telah beradaptasi untuk hidup sepenuhnya di dalam lingkungan air asin. Semua lamun adalah anggota bangsa Alismatales yang berasal dari salah satu dari empat suku berikut: Posidoniaceae, Zosteraceae, Hydrocharitaceae, dan Cymodoceaceae.
Lamun tumbuh berkawanan dan biasa menempati perairan laut hangat dangkal dan menghubungkan ekosistem mangrove dengan terumbu karang. Wilayah perairan laut yang ditumbuhi lamun disebut padang lamun, dan dapat menjadi suatu ekosistem tersendiri yang khas.
Rumput laut adalah tumbuhan berthalus, sehingga dikelompokkan dalam thallopyta. Tubuhnya tidak berdaun, batang serta berakar tetapi menyerupai batang yang disebut thalus. Secara ekologi, komunitas rumput laut dapat memberikan banyak manfaat terhadap lingkungan sekitarnya. Komunitas ini berperan sebagai tempat pembesaran dan perlindungan bagi jenis-jenis ikan tertentu dan merupakan makanan alami ikan-ikan dan hewan herbivora lainnya. Jika ditinjau dari segi biologi, rumput laut memegang peranan sebagai produsen primer, penghasil bahan organik dan oksigen di lingkungan perairan. Dari segi ekonomi, rumput laut merupakan komoditi yang potensial untuk dikembangkan mengingat nilai gizi yang dikandungnya. Rumput laut dapat dijadikan bahan makanan seperti agar-agar, sayuran, kue, dan menghasilkan bahan algin, keragian, dan furcelaran yang digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, tekstil dan lainnya. Dari ratusan jenis rumput laut yang tumbuh dan berkembang di perairan Indonesia, hanya beberapa jenis saja yang telah diusahakan secara komersial, yaitu Gracilaria sp, Gelidium sp., Hypnea sp., Eucheuma sp., dan Sargasum sp.
Rumput laut yang tumbuh di perairan Indonesia tidak semuanya bermanfaat bagi manusia. Rumput laut yang bernilai ekonomis penting kebanyakan dari jenis Rhodophyta, khususnya Eucheuma sp. dan Gracillaria sp.. jenis rumput laut yang paling banyak dimanfaatkan dan dibudidayakan serta merupakan suatu usaha yang sangat bagus dalam dunia perdagangan adalah jenis rumput laut Eucheuma cotonii. Jenis rumput laut ini banyak dimanfaatkan karena penggunaannya sangat luas dalam bidang industri seperti industri makanan, kosmetik, obat-obatan bahkan sebagai komoditas ekspor. Pemanfaatan rumput laut E. cotonii dalam bidang industri makanan dan minuman dapat diolah menjadi manisan, dodol, minuman sari buah dan es rumput laut.

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, alga dikenal sebagai tumbuhan talus (Thallophyta) karena organ-organ berupa akar, batang, dan daunnya belum terdiferensiasi dengan jelas. Algae (jamak) dan alga (tunggal), bersal dari bahasa latin algor yang berarti dingin sedangkan dalam bahasa Yunani algae berasal dari kata phycos.
Berdasarkan ukuran tubuhnya, algae dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu algae berukuran kecil (mikro alga) dan alga berukuran besar (makro alga). Makro alga merupakan tumbuhan makrofibentik (besar dan melekat pada substrat di lautan). Makro alga dibedakan menjadi 3 kelompok berdasarkan pigmen fotosintesis yang dimilikinya, yaitu Clorophyta, Phaeophita, dan Rhodophyta.
Makro alga merupakan tumbuhan tak berpembuluh yang tumbuh melekat pada substrat dasar laut, tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang, daun, bunga, dan biji sejati. Berdasarkan kandungan pigmennya Rumput laut merupakan makroalga bentik yang terdiri dari jenis-jenis yang termasuk divisio Rhodophyta (alga merah),Phaeophyta (alga coklat) dan Chlorophyta (alga hijau). Rumput laut umumnya tumbuh melekat pada suatu substrat.
Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus yang banyak dijumpai hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di pantai yang mempunyai rataan terumbu karang. Di dalam perairan rumput laut menempati posisi sebagai produsenprimer yang menyokong kehidupan biota lain pada tropik level yang lebih tinggi. Rumput laut umumnya hidup di dasar laut dan substratnya dapat berupa pasir, pecahan karang (gravel), karangmati, serta benda-benda keras yang terendamdi dasar laut.
Makroalga (Rumput laut), hidup di laut yang tidak memiliki akar, batang dan daun sejati dan pada umumnya hidup di dasar perairan dan menempel pada substrat (benda lain). Fungsi akar (holdfas) pada rumput laut bukan sebagai penyerap makan melainkan saebagai alat pelekat pada substrat. Karena tidak memiliki akar, batang dan daun seperti umumnya pada tanaman, maka rumput laut digolongkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah (Thallophyta). Morfologi dari rumput laut merupakan salah satu dasar untuk membedakan antara satu jenis alga dengan alga yang lain, bentuk thallus, kandungan pigmen, fungsi-fungsi bagian rumput laut serta beberapa hal mendasar yang membedakan rumput laut.
Rumput laut (seaweed), alga, ganggang dan lamun (seagrass) adalah tumbuhan yang memiliki perbedaan. Rumput laut atau yang biasa disebut dengan seaweed merupakan tanaman makro alga yang hidup di laut yang tidak memiliki akar, batang dan daun sejati dan pada umummnya hidup di dasar perairan. Rumput laut disebut tanaman karena memiliki klorofil (zat hijau daun) sehingga bisa berfotosintesis. Rumput laut juga sering disebut sebagai alga atau ganggang pada daerah-daerah tertentu di Indonesia. Akan tetapi rumput laut (seaweed) berbeda dengan lamun (seagrass). Lamun adalah tanaman yang hidup dilaut dan tidak memiliki klorofil. Lamun merupakan kompetitor bagi rumput laut, dan biasanya tumbuh di daerah dekat pantai yang cenderung kotor. Rumput laut bersama-sama dengan lamun adalah kontributor penting pada rantaimakanan di perairan pantai (Luning, 1990). Tumbuhan bentik ini pada lingkungan laut terbukti sebagai penyedia habitat dan makanan untuk herbivora.
Makroalga tersebar di daerah litoral dan sublitoral. Daerah tersebut masih memperoleh cahaya cukup, sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung Makroalga menyerap nutrisi berupa fosfor dan nitrogen dari lingkungan sekitar perairan (Leviton 2001: 270) sehingga makroalga dapat dijadikan bioindikator sekaligus sebagai filter kondisi perairan.
Padang lamun adalah ekosistem khas laut dangkal di perairan hangat dengan dasar pasir dan didominasi tumbuhan lamun, sekelompok tumbuhan anggota bangsa Alismatales yang beradaptasi di air asin. Padang lamun hanya dapat terbentuk pada perairan laut dangkal (kurang dari tiga meter) namun dasarnya tidak pernah terbuka dari perairan (selalu tergenang). Ia dapat dianggap sebagai bagian dari ekosistem mangrove, walaupun padang lamun dapat berdiri sendiri. Padang lamun juga dapat dilihat sebagai ekosistem antara ekosostem mangrove dan terumbu karang. Lamun adalah sumber pakan utama duyung.
Hal menarik yang dapat kita lihat bahwa padang lamun atau yang di kenal dengan seagrass bukan hanya sebagai tempat mencari makan bagi duyung dan manate tapi juga tempat hidup yang sangat cocok bagi beberapa organisma kecil seperti udang dan ikan. Bahkan penyu hijau (Chelonia mydas) pun sering mengunjungi padang lamun untuk mencari makan.
Kondisi lamun yang menyerupai padang rumput di daratan ini mempunyai beberapa fungsi ekologis yang sangat potensial berupa perlindungan bagi ivertebrata dan ikan kecil.  Daun-daun lamun yang padat dan saling berdekatan dapat meredam gerak arus, gelombang dan arus materi organik yang memungkinkan padang lamun merupakan kawasan lebih tenang dengan produktifitas tertinggi di lingkungan pantai di samping terumbu karang.  Melambatnya pola arus dalam padang lamun memberi kondisi alami yang sangat di senangi oleh ikan-ikan kecil dan invertebrata kecil seperti beberapa jenis udang, kuda laut, bivalve, gastropoda dan echinodermata.  Hal terpenting lainnya adalah daun-daun lamun berasosiasi dengan alga kecil yang dikenal dengan epiphyte yang merupakan sumber makanan terpenting bagi hewan-hewan kecil tadi.  Epiphyte ini dapat tumbuh sangat subur dengan melekat pada permukaan daun lamun dan sangat di senangi oleh udang-udang kecil dan beberapa jenis ikan-ikan kecil.  Disamping itu padang lamun juga dapat melindungi hewan-hewan kecil tadi dari serangan predator.   Sangat khas memang pola kehidupan hewan-hewan kecil ini di padang lamun yang tidak jarang memberikan konstribusi besar bagi kelangsungan ikan dan udang ekonomis penting.  Ini adalah sebagian kecil dari peran penting padang lamun yang menyebar di sekitar perairan pantai Indonesia.
Untuk tipe perairan tropis seperti Indonesia, padang lamun lebih dominan tumbuh dengan koloni beberapa jenis (mix species) pada suatu kawasan tertentu yang berbeda dengan kawasan temperate atau daerah dingin yang kebanyakan di dominasi oleh satu jenis lamun (single species).  Penyebaran lamun memang sangat bervariasi tergantung pada topografi pantai dan pola pasang surut.  Anda bisa saja menjumpai lamun yang terekspose oleh sinar matahari saat surut di beberapa pantai atau melihat bentangan hijau yang didalamnya banyak ikan-ikan kecil saat pasang.  Jenisnya pun beraneka ragam, yang di pantai Indonesia sendiri, kita bisa menjumpai 12 jenis lamun dari sekitar 63 jenis lamun di dunia dengan dominasi beberape jenis diantaranya Enhalus acoroides, Cymodocea spp, Halodule spp., Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, Thallasia hemprichii and Thalassodendron ciliatum. Dan saya percaya kawasan perairan Indonesia yang sangat luas mempunyai jenis lamun yang lebih dari perkiraan beberapa lembaga penelitian. 
Sampai kini konsentrasi penelitian terhadap jenis-jenis lamun dan ekosistem lamun belum sepenuhnya terlaksana. Kurangnya minat beberapa peneliti untuk lebih fokus kearah padang lamun dan minimnya dana penelitian yang di alokasikan ke sektor ini serta minimnya publikasi mengenai padang lamun merupakan penghambat utama bagi pengetahuan dan pemahaman tentang padang lamun kepada masyarakat sementara masyarakat sebagian besar belum sepenuhnya tahu dan mengerti tentang habitat yang satu ini.  Padahal kalau mau jujur masysrakat pantai khususnya banyak sekali tergantung pada habitat ini, yang langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi terhadap kebutuhan sehari-hari mereka.  Kita mungkin tidak menyadari kalau menurunnya produksi beberapa jenis ikan-ikan dan udang-udang pantai ekonomis Indonesia lebih banyak karenakan semakin menipisnya padang lamun yang merupakan habitat alami dari ikan-ikan pantai seperti ikan berinang (Siganus spp.) atau beberapa udang putih (Penaeus spp.) lainnya.


BAB III
PENUTUP

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Algae dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu algae berukuran kecil (mikro alga) dan alga berukuran besar (makro alga). Makro alga merupakan tumbuhan makrofibentik (besar dan melekat pada substrat di lautan).
2.      Makro alga merupakan tumbuhan tak berpembuluh yang tumbuh melekat pada substrat dasar laut, tumbuhan tersebut tidak memiliki akar, batang, daun, bunga, dan biji sejati.
3.      Lamun atau rumput laut adalah anggota tumbuhan berbunga yang telah beradaptasi untuk hidup sepenuhnya di dalam lingkungan air asin. Semua lamun adalah anggota bangsa Alismatales yang berasal dari salah satu dari empat suku berikut: Posidoniaceae, Zosteraceae, Hydrocharitaceae, dan Cymodoceaceae.


DAFTAR PUSTAKA

Atmadja. 1988. Algae bentik. UGM Press: Yogyakarta
Dawes. 1981. Komunitas Rumput laut.  http://rumput_laut.htm. Diakses tanggal 26 Mei 2010.
Kadi. 1989. Makroalga. http://www.docstoc.com. Diakses tanggal 26 Mei 2010.
Kasim. 2005. Padang Lamun. Esis: Jakarta.

OSEANOLOGI PENDAHULUAN


PERANAN ZOOBENTOS



BAB I
PENDAHULUAN

Ekosistem perairan pesisir di Indonesia merupakan kawasan yang akhir-akhir ini mendapat perhatian cukup besar dalam berbagai kebijaksanaan dan perencanaan pembangunan di Indonesia.  Wilayah ini kaya dan memiliki beragam sumber daya alam yang telah dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan utama, khususnya protein hewani.  Dahuri (2002), meyatakan bahwa secara empiris wilayah pesisir merupakan tempat aktivitas ekonomi yang mencakup perikanan laut dan pesisir, transportasi dan pelabuhan, pertambangan, kawasan industri, agribisnis dan agroindustri, rekreasi dan pariwisata serta kawasan pemukiman dan tempat pembuangan limbah.
Selain memiliki potensi yang besar, beragamnya aktifitas manusia di wilayah pesisir menyebabkan daerah ini merupakan wilayah yang paling mudah terkena dampak kegiatan manusia.  Akibat lebih jauh adalah terjadinya penurunan kualitas perairan pesisir, karena adanya masukan limbah yang terus bertambah. 
Pengkajian kualitas perairan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan analisis fisika dan kimia air serta analisis biologi.  Untuk perairan yang dinamis, analisa fisika dan kimia air kurang memberikan gambaran sesungguhnya kualitas perairan, dan dapat memberikan penyimpangan-penyimpangan yang kurang menguntungkan, karena kisaran nilai-nilai peubahnya sangat dipengaruhi keadaaan sesaat.  Bourdeau and Tresshow (1978) dalam Butler (1978) menyatakan bahwa dalam lingkungan yang dinamis, analisis biologi khususnya analisis struktur komunitas hewan bentos, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas perairan. 
Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya.  Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah (Oey, et al1., 1978).  Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro.  Kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobentos (Rosenberg dan Resh, 1993).
Makrozoobentos mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan.  Montagna et all.  (1989) menyatakan bahwa dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi. 
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik.  Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos.  Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar ((Allard and Moreau, 1987); APHA, 1992). 
Makalah ini ditulis untuk memberikan gambaran tentang pemanfaatan makrozoobentos sebagai indikator kualitas perairan, khususnya pada wilayah pesisir.  Adapun hal-hal yang dikemukakan meliputi pengertian makrozoobentos, faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan makrozoobentos, pemanfaatan makrozoobentos sebagai indikator kualitas perairan pesisir, dan spesies indikator.


  BAB II      
PEMBAHASAN

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang (Kendeigh, 1980; Odum 1993; Rosenberg dan Resh, 1993). Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985), serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan.
Zoobentos membantu mempercepat proses dekomposisi materi organik. Hewan bentos, terutama yang bersifat herbivor dan detritivor, dapat menghancurkan makrofit akuatik yang hidup maupun yang mati dan serasah yang masuk ke dalam perairan menjadi potongan-potongan yang lebih kecil, sehingga mempermudah mikroba untuk menguraikannya menjadi nutrien bagi produsen perairan.
Berbagai jenis zoobentos ada yang berperan sebagai konsumen primer dan ada pula yang berperan sebagai konsumen sekunder atau konsumen yang menempati tempat yang lebih tinggi. Pada umumnya, zoobentos merupakan makanan alami bagi ikan-ikan pemakan di dasar ("bottom feeder").
Berdasarkan ukurannya, zoobentos dapat digolongkan ke dalam kelompok zoobentos mikroskopik atau mikrozoobentos dan zoobentos makroskopik yang disebut juga dengan makrozoobentos. Menurut Cummins (1975), makrozoobentos dapat mencapai ukuran tubuh sekurang-kurangnya 3-5 mm pada saat pertumbuhan maksimum. APHA (1992) menyatakan bahwa makrozoobentos dapat ditahan dengan saringan No. 30 Standar Amerika. Selanjutnya Slack et all. (1973) dalam Rosenberg and Resh (1993) menyatakan bahwa makrozoobentos merupakan organisme yang tertahan pada saringan yang berukuran besar dan sama dengan 200 sampai 500 mikrometer.
Barnes and Hughes (1999) dan Nybakken (1997) menyatakan bahwa berdasarkan keberadaannya di dasar perairan, maka makrozoobentos yang hidupnya merayap di permukaan dasar perairan disebut dengan epifauna, seperti Crustacea dan larva serangga. Sedangkan makrozoobentos yang hidup pada substrat lunak di dalam lumpur disebut dengan infauna, misalnya Bivalve dan Polychaeta.
Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida (Cummins, 1975). Taksa-taksa tersebut mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam komunitas perairan karena sebagian dari padanya menempati tingkatan trofik kedua ataupun ketiga. Sedangkan sebagian yang lain mempunyai peranan yang penting di dalam proses mineralisasi dan pendaurulangan bahan-bahan organik, baik yang berasal dari perairan maupun dari daratan.
Sebagai organisme dasar perairan, bentos mempunyai habitat yang relatif tetap. Dengan sifatnya yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya. Komposisi maupun kelimpahan makrozoobentos bergantung pada toleransi atau sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan. Setiap komunitas memberikan respon terhadap perubahan kualitas habitat dengan cara penyesuaian diri pada struktur komunitas. Dalam lingkungan yang relatif stabil, komposisi dan kelimpahan makrozoobentos relatif tetap.
Gaufin dalam Wilhm (1975) mengelompokkan spesies makrozoobentos berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan organik, yaitu kelompok intoleran, fakultatif dan toleran. Organisme intoleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya organik. Organisme ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami penurunan kualitas. Organisme fakultatif yaitu organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi ling-kungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran. Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup di perairan yang banyak bahan organik, namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan. Organisme toleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai di perairan yang berkualitas jelek. Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah di perairan yang tercemar oleh bahan organik. Jumlah organisme intoleran, fakultatif dan toleran dapat menunjukkan derajat pencemaran.
Berdasarkan teori Shelford (Odum, 1993) maka makrozoobentos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit.
Struktur komunitas zoobentos dipengaruhi berbagai faktor lingkungan abiotik dan biotik.  Secara abiotik, faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan makrozoobentos adalah faktor fisika-kimia lingkungan perairan, diantaranya; penetrasi cahaya yang berpengaruh terhadap suhu air; substrat dasar; kandungan unsur kimia seperti oksigen terlarut dan kandungan ion hidrogen (pH), dan nutrien.  Sedangkan secara biologis, diantaranya interaksi spesies serta pola siklus hidup dari masing-masing spesies dalam komunitas (Tudorancea et all.  1979).  Secara skematis, Hawkes (1978) mengemukakan 14 faktor yang mempengaruhi keberadaan hewan bentos di perairan (Gambar 1), sembilan diantaranya merupakan faktor penentu kualitas perairan. 
Cahaya matahari merupakan sumber panas yang utama di perairan, karena cahaya matahari yang diserap oleh badan air akan menghasilkan panas di perairan (Odum, 1993).  Di perairan yang dalam, penetrasi cahaya matahari tidak sampai ke dasar, karena itu suhu air di dasar perairan yang dalam lebih rendah dibandingkan dengan suhu air di dasar perairan dangkal.  Suhu air merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktifitas serta memacu atau menghambat perkembangbiakan organisme perairan.  Pada umumnya peningkatan suhu air sampai skala tertentu akan mempercepat perkembang biakan organisme perairan. 
Klein (1972) dalam Yusuf (1994), menyatakan bahwa suhu air yang tinggi dapat menambah daya racun senyawa-senyawa beracun seperti NO3, NH3, dan NH3N terhadap hewan akuatik, serta dapat mempercepat kegiatan metabolisme hewan akuatik.  Sumber utama senyawa ini berasal dari sampah dan limbah yang mengandung bahan organik protein.
Oksigen terlarut sangat penting bagi pernafasan zoobentos dan organisme-organisme akuatik lainnya (Odum, 1993).  Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh faktor suhu, pada suhu tinggi kelarutan oksigen rendah dan pada suhu rendah kelarutan oksigen tinggi.  Tiap-tiap spesies biota akuatik mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap konsentrasi oksigen terlarut di suatu perairan.  Spesies yang mempunyai kisaran toleransi lebar terhadap oksigen penyebarannya luas dan spesies yang mempunyai kisaran toleransi sempit hanya terdapat di tempat-tempat tertentu saja.  Berdasarkan kandungan oksigen terlarut (DO), Lee et al.  (1978) mengelompokkan kualitas perairan atas empat yaitu; tidak tercemar (> 6,5 mg/l), tercemar ringan (4,5 – 6,5 mg/l), tercemar sedang (2,0 – 4,4 mg/l) dan tercemar berat (< 2,0 mg/l).
Nilai pH menunjukkan derajat keasaman atau kebasaan suatu perairan.  Pescod (1973) menyatakan bahwa toleransi organisme air terhadap pH bervariasi.  Hal ini tergantung, pada suhu air, oksigen terlarut dan adanya berbagai anion dan kation serta jenis dan stadium organisme. 
Kehadiran spesies dalam suatu komunitas zoobentos didukung oleh kandungan organik yang tinggi, akan tetapi belum tentu menjamin kelimpahan zoobentos tersebut, karena tipe substratpun ikut menentukan. 
Tipe substrat dasar perairan pesisir ditentukan oleh arus dan gelombang.  Disamping itu juga oleh kelandaian (slope) pantai.  Menurut Sumich (1992), Nybakken (1997) dan Barnes and Hughes (1999) substrat daerah pesisir terdiri dari bermacam-macam tipe, antara lain: lumpur, lumpur berpasir, pasir, dan berbatu.  Pada daerah pesisir dengan kecepatan arus dan gelombang yang lemah, subtrat cenderung berlumpur.  Daerah ini biasa terdapat di daerah muara sungai, teluk atau pantai terbuka dengan kelandaian yang rendah.  Sedangkan pada daerah pesisir yang mempunyai arus dan gelombang yang kuat disertai dengan pantai yang curam, maka substrat cenderung berpasir sampai berbatu. 
Substrat lumpur, merupakan ciri dari estuaria dan rawa asin.  Perbedaan utama dengan wilayah pesisir dengan substrat berpasir adalah pantai berlumpur tidak dapat berkembang dengan hadirnya gerakan gelombang.  Oleh karena itu, daerah pesisir dengan pantai berlumpur hanya terbatas pada daerah intertidal yang benar-benar terlindung dari aktivitas gelombang laut terbuka.  Pantai berlumpur cenderung untuk mengakumulasi bahan organik, sehingga cukup banyak makanan yang potensial bagi bentos pantai ini.  Namun, berlimpahnya partikel organik yang halus yang mengendap di dataran lumpur juga mempunyai kemampuan untuk menyumbat permukaan alat pernafasan. 
Bentos yang dominan hidup di daerah substrat berlumpur tergolong dalam “suspended feeder”.  Diantara yang umum ditemukan adalah kelompok Polychaeta, Bivalva, Crustaceae, Echinodermata dan Bakteri.  Disamping itu juga ditemukan gastropoda dengan indeks keanekaragaman yang rendah serta lamun yang berperan meningkatkan kehadiran bentos. 
Adapun substrat berpasir umumnya miskin akan organisme, tidak dihuni oleh kehidupan makroskopik, selain itu kebanyakan bentos pada pantai berpasir mengubur diri dalam substrat.  Produksi primer pantai berpasir rendah, meskipun kadang-kadang dijumpai populasi diatom yang hidup di pasir intertidal.  Hampir seluruh materi organik diimpor baik dalam bentuk materi organik terlarut (DOM) atau partikel (POM).  Pantai berpasir tidak menyediakan substrat yang tetap untuk melekat bagi organisme, karena aksi gelombang secara terus menerus menggerakkan partikel substrat.  Kelompok organisme yang mampu beradaptasi pada kondisi substrat pasir adalah organisme infauna makro (berukuran 1-10 cm) yang mampu menggali liang di dalam pasir, dan organisme meiofauna mikro (berukuran 0,1 – 1 mm) yang hidup di antara butiran pasir dalam ruang interaksi.  Ditinjau dari kebiasaan makan (feeding habit) maka hewan bentos yang banyak ditemukan adalah kelompok suspended feeder dan karnivor.  Organisme yang dominan adalah polychaeta, bivalva dan crustacea. 
Daerah pesisir dengan substrat berbatu merupakan daerah yang paling padat makroorganismenya dan mempunyai keragaman terbesar baik untuk spesies hewan maupun tumbuhan.  Komunitas biota di daerah pantai berbatu jauh lebih kompleks dari daerah lain karena bervariasinya relung (niche) ekologis yang disediakan oleh genangan air, celah-celah dan permukaan batu serta hubungan yang bervariasi terhadap cahaya, gerakan air, perubahan suhu dan faktor lainnya.  Ditinjau dari kebiasaan makan (feeding habit) maka hewan bentos yang banyak ditemukan termasuk kelompok herbivora, scavenger, suspended feeder dan predator.  Organisme bentos yang dominan adalah kelompok epifauna, seperti gastropoda, crustacea, bivalva dan echinodermata. 
Kedalaman air mempengaruhi kelimpahan dan distribusi zoobentos.  Dasar perairan yang kedalaman airnya berbeda akan dihuni oleh makrozoobentos yang berbeda pula, sehingga terjadi stratifikasi komunitas menurut kedalaman.  Pada perairan yang lebih dalam makrozoobentos mendapat tekanan fisiologis dan hidrostatis yang lebih besar.  Karena itu makrozoobentos yang hidup di perairan yang dalam ini tidak banyak.  Berdasarkan kedalaman laut Wright (1984), mengelompokkan keberadaan hewan bentos dibagi atas tiga zone yaitu (1) zona intertidal (intertidal zone), (2) zona paparan benua (continental shelf) dan (3) zona laut dalam (deep sea). 
Faktor fisika kimia lain yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberadaan makrozoobentos di perairan pesisir adalah salinitas dan keterbukaan wilayah pesisir selama pasang surut serta buangan limbah, baik yang mengandung senyawa-senyawa beracun (toksin) maupun logam berat. 
Daerah pasang surut khususnya pada daerah intertidal, memiliki kondisi kritis, dimana suhu pada wilayah ini bisa berbeda sangat ekstrim sebagaimana halnya salinitas.  Pasang naik dan turun menyebabkan hamparan intertidal terendam air atau kontak langsung dengan udara terbuka selama interval waktu tertentu.  Pada saat pasang turun (terpapar), kondisi permukaan substrat dasar yang menjadi habitat hidup bentos mengalami kering karena adanya penguapan yang mengakibatkan terjadi peningkatan suhu dan salinitas yang cepat bahkan dapat mencapai batas letal organisme.  Disamping itu, bentos juga dapat mati disebabkan oleh kehabisan air.  Disisi lain, adanya genangan pasang-surut, dapat digenangi oleh air tawar yang mengalir masuk ketika hujan deras sehingga terjadi penurunan salinitas yang mendadak. 
Buangan limbah, baik yang mengandung senyawa-senyawa beracun (toksit) maupun logam berat, merupakan faktor lain yang juga mempengaruhi keberadaan makrozoobentos di perairan pesisir.  Bahan-bahan ini berasal dari daerah aliran sungai maupun areal pemukiman – kota dipinggiran pantai serta kawasan atau industri yang membuang limbah ke laut.
Penggunaan makrozoobentos sebagai indikator kualitas perairan dinyatakan dalam bentuk indeks biologi.  Cara ini telah dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa terdapat kelompok organisme tertentu yang hidup di perairan tercemar.  Jenis-jenis organisme ini berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup di perairan tidak tercemar.  Kemudian oleh para ahli biologi perairan, penge-tahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat dijadikan indikator kualitas per-airan.
Metode kualitatif tertua untuk mendeteksi pencemaran secara biologis adalah sistem saprobik (Warent, 1971) yaitu sistem zonasi pengkayaan bahan organik berdasarkan spesies hewan dan tanaman spesifik.  Hynes (1978) ber-pendapat bahwa sistem saprobik mempunyai beberapa kelemahan, antara lain kurang peka terhadap pengaruh buangan yang bersifat toksik.  Tidak ditemukannya makrozoobentos tertentu belum tentu dikarenakan adanya pencemaran organik, sebab mungkin dikarenakan kondisi fisik perairan yang kurang mendukung kehidupannya atau kemunculannya dikarenakan daur hidupnya. 
Adanya kelemahan sistem saprobik, maka untuk menilai kualitas perairan, secara kuantitatif dilakukan metode pendekatan memakai model-model matematik.  Metode ini dikembangkan berdasarkan terjadinya perubahan struktur komunitas sebagai akibat perubahan yang terjadi dalam kualitas lingkungan perairan karena berlangsungnya pencemaran.  Model yang umum digunakan adalah dengan me-ngetahui indeks keragaman jenis, keseragaman populasi dan dominansi jenis.
Keragaman jenis disebut juga keheterogenan jenis, merupakan ciri yang unik untuk menggambarkan struktur komunitas di dalam organisasi kehidupan.  Suatu komunitas dikatakan mempunyai keragaman jenis tinggi, jika kelimpahan masing-masing jenis tinggi dan sebaliknya keragaman jenis rendah jika hanya ter-dapat beberapa jenis yang melimpah.
Indeks keragaman jenis (H') menggambarkan keadaan populasi organisme secara matematis, untuk mempermudah dalam menganalisa informasi-informasi jumlah individu masing-masing jenis dalam suatu komunitas.  Diantara Indeks ke-ragaman jenis ini adalah Indeks keragaman Shannon - Wiener.
Perbandingan antara keragaman dan keragaman maksimum dinyatakan se-bagai keseragaman populasi, yang disimbulkan dengan huruf E.  Nilai E ini berki-sar antara 0 - 1.  Semakin kecil nilai E, semakin kecil pula keseragaman populasi, artinya penyebaran jumlah individu setiap jenis tidak sama dan ada kecenderungan satu spesies mendominasi, begitu pula sebaliknya semakin besar nilai E maka tidak ada jenis yang mendominasi.  Untuk melihat dominasi suatu spesies digunakan indeks dominansi (C).
Berdasarkan nilai indeks keragaman jenis zoobentos, yang dihitung berdasarkan formulasi Shannon-Wiener, dapat ditentukan beberapa kualitas air.  Wilhm (1975) menyatakan bahwa air yang tercemar berat, indeks keragaman jenis zoobentosnya kecil dari satu.  Jika berkisar antara satu dan tiga, maka air tersebut setengah tercemar.  Air bersih, indeks keragaman zoobentosnya besar dari tiga.  Staub et all.  dalam Wilhm (1975) menyatakan bahwa berdasarkan indeks keragaman zoobentos, kualitas air dapat dikelompokkan atas: tercemar berat (0<H'<1), setengah tercemar (1<H'<2), tercemar ringan (2<H'<3) dan tercemar sangat ringan (3<H<4,5).  Kisaran nilai H' tersebut merupa-kan bagian dari penilaian kualitas air yang dilakukan secara terpadu dengan faktor fisika kimia air.  Sedangkan Lee et all. (1978) menyatakan bahwa nilai indeks keragaman (H) pada perairan tercemar berat, kecil dari satu (H<1), tercemar sedang (1,0 - 1,5), tercemar ringan (1,6 – 2,0), dan tidak tercemar H besar dari dua (H>2,0).
Pengembangan metode indeks diversitas dilakukan oleh Warent (1971) dan May (1975) dalam Magurran (1988), yaitu menggunakan model distribusi kelimpahan jenis.  Model distribusi kelimpahan jenis ini pada dasarnya menggunakan parameter yang sama namun dalam perhitungannya lebih bervariasi misalnya rangking spesies, kelimpahan observasi, kelimpahan teoritis, dan uji kesesuaian model, sehingga model ini lebih mendekati keadaan perairan sesungguhnya.
Model distribusi kelimpahan spesies dapat menerangkan mekanisme pem-bagian dan pemanfaatan sumber daya dalam komunitas (Magurran, 1988).  Model-model tersebut adalah: Model Geometrik, Model Log Normal dan Model Broken Stick.  Model Geometrik menggambarkan keadaan ekosistem perairan dimana organisasi komunitas bersifat kompetitif dan mengalami gangguan, produktifitas rendah, pembagian sumber daya dalam komunitas tidak merata (Southwood, 1978) dan dalam tingkat suksesi awal atau lingkungan sangat terganggu (Magurran, 1988).  Model Log normal menggambarkan organisasi komunitas yang layak, pembagian relung yang mantap atau merata, lingkungan perairan yang stabil sehingga mencirikan suatu komunitas yang seimbang.  Model Broken Stick menggambarkan suatu komunitas yang stabil dan tidak ada kompetisi, pembagian relung mengacak tanpa tumpang tindih dan lingkungan sangat stabil dan produktif.


BAB III
PENUTUP

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang.
2.      Berdasarkan teori Shelford (Odum, 1993) maka makrozoobentos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
3.      Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida.


DAFTAR PUSTAKA

Abel, P. 1989. Water Pollution Biology. Department of Biology. Sunderland Polytechnic. Ellis Horwood limited. England.

Cummins, K. W. 1975. Fishes dalam Whitton B. A. (ed.). River Ecology. Black-well Scient Publ. Oxford.

Pararaja. 2008. Makrozoobentos; Indikator Perairan Air Tawar. UGM Press: Yogyakarta.



PEOPLE AROUND ME


..NoTe..

          Lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian kita. Lingkungan yang baik akan membentuk pribadi yang baik, sebaliknya lingkungan yang buruk akan membentuk diri kita menjadi orang yang buruk pula. Kalimat seperti ini tentunya sudah lazim kita dengar tapi percaya atau tidak kalimat ini yang sering terjadi di dalam kehidupan kita.
Aku dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai bermacam-macam sifat dan kepribadian. Ada yang memiliki sifat bisa dibilang kurang baik dan sedikit diantaranya yang lumayan baik.
Terkadang aku iri melihat orang lain, spupu.ku, bahkan kakak.ku sendiri yang dikelilingi oleh teman-teman yang baik, mereka smuanya baik dan ramah, sangat menghargai antara yang satu dengan yang lain, serta tidak egois. Aku slalu berpikir, pengen banget mendapatkan teman seperti mereka dan seandainya punya teman seperti itu maka hidupku ini akan sangat bahagia. Aku sadar bahwa itu hanya keinginan yang belum tentu dapat terkabulkan.
Tapi aku tetap bersyukur sama Tuhan sudah diberikan teman-teman seperti mereka karena bagaimana pun juga meraka yang mengajariku bahwa hidup ini adalah perjuangan, jangan mudah percaya dengan orang lain, dan terkadang tidak akan ada orang disekitar kita yang akan membantu disaat kita membutuhkan.
Ada beberapa tipe orang di sekelilingku dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, diantaranya beberapa orang terkadang hanya membantu teman dekatnya tanpa peduli dengan orang lain, datang hanya pada saat meraka betul-betul butuh, menganggap remeh orang lain dan hanya menganggap dirinya hebat, egois, serta ada beberapa orang yang bergaul dengan cara menjelekkan orang lain padahal mereka bisa dikatakan teman dekat. Ada juga tipe orang yang modis dan kamseupai. Anehnya, tipe orang kamseupai yang memiliki kepribadian yang agak menyebalkan, suka menjelekkan orang lain, dan menganggap dirinya hebat.
Tetapi apapun tipe orang dengan kepribadiannya yang hadir di sekelilingku tetap aku syukuri. Aku tahu walaupun agak menyebalkan tapi Tuhan hadirkan mereka dalam hidupku dengan tujuan tertentu.
Positifnya, Tuhan memberikanku pelajaran melalui mereka untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa dalam menyikapi suatu masalah, dan dapat membedakan mana sifat yang baik dan tidak.
Umur kita akan semakin bertambah tua, dengan bertambahnya usia kita setiap tahun maka seharusnya sikap kita dapat menjadi pribadi yang lebih dewasa tidak bersifat kekanak-kanakan dan yang terpenting adalah sikap hidup yang kita miliki harus dapat menyenangkan hati Tuhan J

Teman dekatQ


..Note..
Teman dekat atau dapat kita sebut juga sahabat adalah orang-orang yang selalu setia berada si samping kita, baik susah ataupun senang, bisa menghargai kekurangan dan kelebihan yang kita miliki, mau berbagi tidak menyembunyikan sesuatu di belakang kita, tidak egois, dan yang paling utama teman sejati bukanlah ia yang berbicara tentang keburukan orang lain di depanmu tetapi ia yang tidak berbicara buruk tentang dirimu di belakangmu.
Memang sangat sulit untuk mendapatkan sahabat dan tentunya semua orang memerlukan sahabat. Dan sampai saat ini aku belum juga menemukan sahabat sejati, tetapi aku percaya sahabat sejati dapat berawal dari teman dekat, dan tentunya aku memiliki teman dekat itu.
Aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan orang-orang disekelilingku walaupun kebanyakan dari meraka memberikan pengaruh yang negative, tetapi beberapa juga memberikan pengaruh positif. Aku banyak belajar dari mereka tentang betapa kerasnya dunia ini. Janganlah berharap pada orang lain yang kelihatannya baik di depanmu karena ujung-ujungnya kita akan sakit hati, tetapi bersandarlah pada Tuhan saja maka kita tidak akan kecewa.
Kegagalan yang pernah aku alami membuatku sadar bahwa di dunia ini tidak ada teman yang sempurna. Jangan mencari teman yang sempurna tetapi hargailah apa yang sudah kamu miliki. Terkadang, kita harus kehilangan sesuatu yang berarti tuk bisa menyadari dan mensyukuri atas apa yang kita miliki sekarang.
Dalam hubungan dengan teman dekat ataupun sahabat yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memberi ruang kepada orang lain, saling percaya, dan tidak egois. Aku bersyukur kepada Tuhan buat teman-teman dekat yang aku miliki J



Happiness isn’t getting whatever U want. It’s enjoying whatever U have

          Walaupun kami udah beda fakultas tapi teman dekat itu akan selalu ada di hati dan gak akan terlupakan. Selalu akan ada waktu buat teman-teman terdekatQ. Tuhan pasti punya rencana indah buat apa yang telah terjadi di dalam hidupku. Thanks Jesus <3 

Thursday, December 6, 2012

HILLSONG

Hosanna
 
Verse 1
I see the king of glory
Coming down the clouds with fire
The whole earth shakes, the whole earth shakes
I see his love and mercy
Washing over all our sin
The people sing, the people sing

Chorus
Hosanna, hosanna
Hosanna in the highest

Verse 2
I see a generation
Rising up to take the place
With selfless faith, with selfless faith
I see a new revival
Staring as we pray and seek
We're on our knees, we're on our knees

Bridge
Heal my heart and make it clean
Open up my eyes to the things unseen
Show me how to love like you have loved me
Break my heart for what is yours
Everything I am for your kingdom's cause
As I walk from earth into eternity

HILLSONG

I Desire Jesus

 

I desire Jesus
Precious Lamb
Who ransomed me
Upon the cross
He took my sin
By His blood
He set me free

I desire Jesus
Oh His Name
My soul esteem
For upon
His thorn-scarred brow
Is the crown of victory

Chorus
He is worthy of all honour
All glory to His Name
He alone deserves
Our highest praise
And forever He will reign

I desire Jesus
Triumphant One
The earth awaits
For on that day
The earth will shine
With the glory of Your Name

Chorus 2
You are worthy of all honour
All glory to Your Name
You alone deserve
Our highest praise
And forever You will reign

Bridge x3
You are all glorious
You are all glorious
My heart leans in
My soul must sing
You are all glorious

Chorus 2

Bridge x2

I desire Jesus
Precious Lamb
Who ransomed me
Unto You an offering
Will my life forever be

Kari Jobe

 Steady My Heart

Wish it could be easy
Why is life so messy
Why is pain a part of us

There are days I feel like
Nothing ever goes right
Sometimes it just hurts so much

But You’re here, You’re real
I know I can trust You

Even when it hurts, even when it’s hard
Even when it all just falls apart
I will run to You ’cause I know that You are
Lover of my soul, Healer of my scars

You steady my heart
You steady my heart

I’m not gonna worry
I know that You’ve got me
Right inside the palm of your hand

Each and every moment
What’s good and what gets broken
Happens just the way You plan

You are here, You’re real
I know I can trust You

Even when it hurts, even when it’s hard
Even when it all just falls apart
I will run to You ’cause I know that You are
Lover of my soul, Healer of my scars

You steady my heart
You steady my heart

And I will run to You
I’ll find refuge in Your arms
And I will sing to You
Cause of everything You are

You steady my heart
You steady my heart

Even when it hurts, even when it’s hard
Even when it all just falls apart
I will run to You ’cause I know that You are
Lover of my soul, Healer of my scars

You steady my heart
You steady my heart

I’m not gonna worry
I know that You’ve got me
Right inside the palm of Your hand