Wednesday, October 24, 2012

FISIOLOGI TUMBUHAN


LAPORAN PRAKTIKUM
FISIOLOGI TUMBUHAN

PERCOBAAN V
AKTIVITAS ENZIM AMILASE

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim (eksoenzim) yang berperan dalam merubah karbohidrat komplek adalah karbohidrase, amilase, dan selulase. Pati merupakan substansi yang terlebih dahulu harus diubah menjadi molekul lebih sederhana agar dapat diserap oleh sel. Mikroorganisme memproduksi enzim untuk memecah substansi di dalam sel, salah satunya adalah amilase.
Suatu bagian yang sangat kecil dari suatu molekul besar adalah protein enzim yang berperan dalam mengkatalisis suatu reaksi. Bagian kecil ini disebut bagian aktif (active site) enzim. Enzim bekerja dengan cara menempel pada permukaan molekul zat-zat yang bereaksi dan dengan demikian mempercepat proses reaksi. Percepatan terjadi karena enzim menurunkan energi pengaktifan yang dengan sendirinya akan mempermudah terjadinya reaksi. Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim α-amilase hanya dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa.
Enzim amilase merupakan enzim yang mengkatalisis reaksi hidrolisis pati menjadi gula-gula sederhana. Amilase sendiri merupakan enzim yang paling penting dan keberadaanya paling besar, pada bidang bioteknologi, enzim ini diperjualbelikan sebanyak 25% dari total enzim yang lainya. Amilase didapatkan dari berbagai macam sumber, seperti tanaman, hewan dan mikroorganisme.
Berdasarkan hal di atas, maka dilakukanlah percobaan ini yaitu untuk lebih mengetahui dan memahami kerja suatu enzim amilase.

I.2 Tujuan
            Tujuan dilakukannya percobaan ini, yaitu untuk melihat pengaruh pemberian enzim amilase terhadap larutan pati dari kentang Solanum tuberosum.

I.3 Waktu dan Tempat
Percobaan ini berlangsung pada hari Senin, tanggal 22 November 2010, pada pukul 11.00 – 14.00 WITA, bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Enzim merupakan sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sistem biologik. Hampir tiap reaksi kimia dalam sistem biologis dikatalisis oleh enzim. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya (Soewoto, 2001).
Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel. Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen. Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1,4 dan alfa-l,6-glikosida (Anonim, 2010).
Fungsi suatu enzim adalah sebagai katalis untuk proses biokimia yang terjadi di dalam maupun di luar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, disamping itu mempunyai derajat kekhasan yang sangat tinggi. Seperti juga katalis lainnya, maka enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada yang membutuhkan energi (endergonik) dan ada pula yang menghasilkan energi atau mengeluarkan energi (eksergonik). Dengan adanya katalis atau enzim, harga energi aktivasi diperkecil atau diturunkan. Dengan demikian akan dapat memudahkan atau mempercepat terjadinya suatu  reaksi (Poedjiadi, 2006).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi enzim diantaranya adalah (Dwidjoseputro, 1992) :
>  Suhu
Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktig enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang.
>  Pengaruh pH
Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum, yang lazimnya berkisar antara pH 4,5-8.0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversibel karena menjadi denaturasi protein.
>  konsentrasi enzim
Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksibertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.
>  konsentrasi substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepat reaksi. Akan tetapi, pada batas tertentu tidak terjadi kecepatan reaksi, walaupn konsenrasi substrat diperbesar.
>  zat-zat penghambat
Hambatan atau inhibisi suatu reaksi akan berpengaruh terhadap penggabungan substrat pada bagian aktif yang mengalami hambatan.
Biji-biji yang sedang berkecambah dapat menjadi sumber enzim dari jaringan tumbuhan, meskipun enzim-enzim yang diperoleh merupakan enzim kasar. Untuk keperluan percobaan enzim yang sederhana dapat digunakan ekstrak kecambah (Latunra, 2010).
Enzim aktif dalam jumlah yang sangat sedikit. Tidak berpengaruh oleh reaksi yang dikatalisisnya pada kondisi stabil. Walaupun enzim mempercepat penyelesaian suatu reaksi, enzim tidak mempengaruhi keseimbangan reaksi tersebut (Latunra, 2010).
Tubuh manusia juga menghasilkan berbagai macam enzim yang tersebar di berbagai bagian dan memiliki fungsi tertentu. Salah satu enzim yang penting dalam sistem pencernaan manusia adalah enzim amilase. Enzim ini terdapat dalam saliva atau air liur manusia. Saliva yang disekresikan oleh kelenjar liur selain mengandung enzim amilase juga mengandung  99,5%  air, glikoprotein, dan musin yang bekerja sebagai pelumas pada waktu mengunyah dan menelan makanan. Amilase yang terdapat dalam saliva adalah α-amilase liur yang mampu membuat polisakarida (pati) dan glikogen dihidrolisis menjadi maltosa dan oligosakarida lain dengan menyerang ikatan glikosodat α (1 4). Amilase liur akan segera terinaktivasi pada pH 4,0 atau kurang sehingga kerja pencernaan makanan dalam mulut akan terhenti apabila lingkungan lambung yang asam menembus partikel makanan (Anonim, 2010).
            Enzim meningkatkan laju sehingga terbentuk kesetimbangan kimia antara produk dan pereaksi. Pada keadaaan kesetimbangan, istilah pereaksi dan produk tidaklah pasti dan bergantung pada pandangan kita. Dalam keadaan fisiologi yang normal, suatu enzim tidak mempengaruhi jumlah produk dan pereaksi yang sebenarnya dicapai tanpa kehadiran enzim. Jadi, jika keadaan kesetimbangan tidak menguntungkan bagi pembentukan senyawa, enzim tidak dapat mengubahnya (Salisbury dan Ross, 1995).
Enzim amilase digunakan untuk menghidrolisis pati menjadi suatu produk yang larut dalam air serta mempunyai berat molekul rendah yaitu glukosa. Enzim ini banyak digunakan pada industri minuman misalnya pembuatan High Fructose Syrup (HFS) maupun pada industri tekstil. Enzim amilase dapat diproduksi oleh berbagai jenis mikroorganisme terutama dari keluarga Bacillus, Psedomonas dan Clostridium. Bakteri potensial yang akhir-akhir ini banyak digunakan untuk memproduksi enzim amilase pada skala industri antara lain Bacillus licheniformis dan B.stearothermophillus. Bahkan penggunaan B.stearothermophillus lebih disukai karena mampu menghasilkan enzim yang bersifat termostabil sehingga dapat menekan biaya produksi (Anonim, 2010).
Dalam mempelajari enzim dikenal beberapa istilah diantaranya holoenzim, apoenzim, kofaktor, gugus prostetik, koenzim, dan substrat. Apoenzim adalah suatu enzim yang seluruhnya terdiri dari protein, sedangkan holoenzim adalah enzim yang mengandung gugus protein dan gugus non protein. Gugus yang bukan protein tadi dikenal dengan istilah kofaktor. Pada kofaktor ada yang terikat kuat pada protein dan sukar terurai dalam larutan yang disebut gugus prostetik dan adapula yang tidak terikat kuat pada protein sehingga mudah terurai yang disebut koenzim. Baik gugus prostetik maupun koenzim, keduanya merupakan bagian yang memungkinkan enzim bekerja pada substrat. Substrat merupakan zat-zat yang diubah atau direaksikan oleh enzim (Poedjadi, 2006).
Enzim digolongkan menurut reaksi yang diikutinya, sedangkan masing-masing enzim diberi nama menurut nama substratnya, misalnya urease, arginase dan lain-lain. Di samping itu ada pula beberapa enzim yang dikenal dengan nama lama misalnya pepsin, tripsin dan lain-lain. Oleh Commision on Enzymes of the International Union of Biochemistry, enzim dibagi dalam enam golongan besar. Penggolongan ini didasarkan atas reaksi kimia di mana enzim memegang peranan (Poedjiadi, 2006).
Suatu enzim hanya dapat bekerja spesifik pada suatu substrat untuk suatu perubahan tertentu. Misalnya, sukrase akan menguraikan rafinosa menjadi melibiosa dan fruktosa, sedangkan oleh emulsin, rafinosa tersebut akan terurai menjadi sukrosa dan galaktosa (Salisbury dan Ross, 1995).
Amilase (alfa, beta dan glukoamilase) merupakan enzim yang penting dalam bidang pangan dan bioteknologi. Amilase dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti tanaman, binatang dan mikroorganisme. saat ini sejumlah enzim amilae telah diproduksi secara komersial. Penggunaan mikrobia dianggap lebih prosepektif karena mudah tumbuh, cepat menghasilkan dan kondisi lingkungan dapat dikendalikan (Anonim, 2010).
Produksi enzim amilase dapat menggunakan berbagai sumber karbon. Contoh-contoh sumber karbon yang murah adalah sekam, molase, tepung jagung, jagung, limbah tapioka dan sebagainya. Jika digunakan limbah sebagai substrat, maka limbah tadi dapat diperkaya nutrisinya untuk mengoptimalkan produksi enzim. Sumber karbon yang dapat digunakan sebagai suplemen antara laian: pati, sukrosa, laktosa, maltosa, dekstyrosa, fruktosa, dan glukosa. Sumber nitrogen sebagai suplemen antara lain: pepton, tripton, ekstrak daging, ekstrak khamir, amonium sulfat, tepung kedelai, urea dan natrium nitrat (Anonim, 2010).
Untuk uji deteksi amilase, degradasi yang terjadi pada pati diketahui dengan hilangnya material yang terwarnai oleh iodine. Uji deteksi α amylase yang menghidrolisis α-1,4-glikogen dan poliglucosan lainnya. Pada saat awal perlakuan terjadi penurunan yang cepat berat molekul pati yang dihasilkan dari pewarnaan iodine. Produk akhir utama dari degradasi ini adalah oligosakarida dengan berat molekul yang rendah. Sebaliknya, β-amilase mampu mengkatalisis sebuah serangan exolitik dan mendegradasi pati dengan cara memecah maltose dari ujung rantai pati. Enzim amylase dari B. subtilis dapat dipisahkan satu sama lain dan secara subsekuen mengeluarkannya bersama maltose. Enzim amylase dapat dipisahkan dari protease dengan menambahkan insoluble starch ke dalam kultur untuk menyerap amilase (Mahbub, 2008).
Aktivitas amilase dilakukan oleh enzim bakteri dan terlihat berwarna biru di dalam iodin. Apabila iodin menyebabkan media pati berwarna biru pada koloni bakteri maka tidak ada amilase yang diproduksi. Molekul maltosa yang kecil dapat masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Interaksi iodin dengan pati membuat media berwarna biru gelap. Menurut Ekunsaumi, produksi enzim amilase oleh koloni bakteri pada media ditunjukkan adanya zona bening dengan penambahan larutan iodin di sekitar koloni bakteri (Mahbub, 2008).
Komposisi dan konsentrasi media sangat mempengaruhi produksi dari enzim amilase ekstraseluler pada bakteri, yeast, dan Aspergillus sp. Shinke dalam Srivastava menyatakan bahwa komposisi medium sangat mempengaruhi produksi amilase, seperti halnya sporulasi pada Bacillus cereus. Keberadaan pati akan menginduksi produksi amilase. Keadaan lingkungan dan sumber nitrogen pada media kultur juga akan mempengaruhi pertumbuhan produksi amilase. Disamping karbon dan nitrogen, sodium dan garam potassium, ion metal, dan detergen juga akan mempengaruhi produksi amilase dan pertumbuhan mikroorganisme (Mahbub, 2008).



BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
            Alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu tabung reaksi, cawan petri, gegep, stopwatch, dan pipet tetes.
III.2  Bahan
            Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu larutan pati dari kentang Solanum tuberosum, enzim amilase (saliva), dan larutan JKJ.
III.3 Cara Kerja
1.        Mengambil 5 filtrat yang mengandung enzim amilase (saliva) dan meletakkannya ke dalam 2 tabung reaksi.
2.        Memanaskan salah satu tabung sampai mendidih dan biarkan satu tabung pada suhu kamar.
3.        Menambahkan 5 ml larutan pati ke dalam masing-masing tabung lalu menghomogenasikan kedua larutan tersebut sehingga larutan benar-benar tercampur.
4.        Melakukan pengetesan campuran larutan pati dengan enzim amilase oleh larutan JKJ pada pelat tetes dengan menggunakan pipet sebanyak 5 tetes.
5.        Mengamati larutan tersebut dengan melihat perubahan yang terjadi, dengan interval waktu selama 2 menit selama 10 menit.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
Interval waktu
Panas
Dingin
2
++
++
4
++
++
6
++
++
8
+
+
10
+
+

Keterangan :
+          : Bening
++        : Agak coklat
+++     : coklat
++++   : Coklat tua
: Endapan

 IV.2 Pembahasan
            Pada percobaan ini, digunakan larutan pati dari kentang Solanum tuberosum untuk mengetahui pengaruh enzim amilase yang terdapat dalam saliva (air liur). Dari hasil percobaan maka diperoleh data bahwa pada perlakuan yang dipanaskan maupun yang tidak dipanaskan memiliki hasil yang sama.
Perlakuan pertama yaitu menyediakan masing-masing 5 ml air saliva dalam 2 tabung reaksi. Air saliva berfungsi sebagai sumber enzim amilase yang akan digunakan untuk mengurai pati. Kemudian memanaskan air saliva yang terdapat pada tabung 1. Hal ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kerja enzim amilase setelah dipanaskan, sedangkan pada tabung 2 disimpan pada suhu kamar yang berfungsi sebagai pembanding dengan yang tabung 1. Setelah itu, menambahkan pada masing-masing kedua tabung larutan kentang, dimana larutan kentang ini berfungsi sebagai sumber pati.
Pada metode percobaan, larutan yang telah dihomogenasikan antara larutan pati dengan saliva akan dipanaskan dengan menggunakan interval waktu 2 menit, hal ini bertujuan untuk melihat laju kecepatan enzim bereaksi serta setelah dipanaskan akan dilakukan penambahan larutan I2KI yang berfungsi sebagai indikator warna pada larutan pati.
            Pada hasil percobaan yang dipanaskan menunjukkan bahwa untuk interval waktu 0 (waktu awal) memiliki warna larutan bening (+), sedangkan pada waktu 2 menit selanjutnya larutan tersebut berubah warna menjadi agak coklat (++). Untuk menit ke-4 dan 6 larutannya tetap berwarna agak coklat (++). Pada menit ke-8 dan 10 larutan berubah menjadi bening (+). Begitupun untuk larutan yang mendapat perlakuan yang tidak dipanaskan hasil datanya juga sama dengan yang dipanaskan.
            Pada percobaan ini, digunakan enzim amilase karena enzim amilase terdapat di dalam saliva yang fungsinya untuk memecah amilum menjadi maltosa begitupun nantinya maltosa ini akan dipecah-pecah lagi menjadi gula yang lebih sederhana. Oleh karena itu enzim amilase yang digunakan pada percobaan ini, sebab enzim ini terdapat dalam mulut dan dengan mudah diperoleh, berbeda dengan enzim-enzim lainnya, misalnya enzim ptialin yang ada dalam lambung yang sukar diperoleh serta kerja enzim juga sangat spesifik karena enzim akan bekerja sesuai dengan substrat yang sesungguhnya. Hal ini sangat berhubungan dengan fungsi enzim amilase yaitu hanya dapat memecah amilum menjadi gula-gula yang sederhana berbeda dengan enzim yang lain.
Amilum terdiri atas tiga jenis yaitu α-amilase, β-amilase dan γ-amilase, dimana α-amilase ini terdapat dalam mulut (saliva) yang menghidrolisa ikatan α(1→4) pada cabang sebelah luar glikogen dan amilopektin menjadi glukosa, sejumlah kecil maltosa, dan suatu inti tahan hidrolisa yang disebut dekstrin. Artinya enzim ini dapat memecah ikatan 1,4 glioksida sehingga bersifat endoamilasi yang memutuskan ikatan pada bagian tengah. Pada β-amilase merupakan amilum yang banyak terdapat dalam tumbuhan dan sifatnya memutuskan ikatan pada bagian ujung (eksoamilase) sedangkan γ-amilase terdapat didalam hati baik hati manusia maupun hati hewan. 
Pada percobaan ini larutan yang tidak mengalami pemanasan dapat dikatakan enzimnya dapat bekerja secara optimal terbukti dari warna larutan yang berubah setelah menit terakhir menjadi bening akibat pati yang telah dipecahkan menjadi lebih sederhana oleh enzim amilase. Sedangkan pada larutan yang mengalami pemanasan, seharusnya enzim tidak bekerja karena pada larutan yang dipanaskan enzimnya akan mengalami kerusakan (denaturasi) dan kecepatan reaksinya menjadi lambat atau terhambat. Tetapi pada percobaan ini, aktivitas enzim masih telihat jelas yang ditandai dengan perubahan larutan menjadi warna bening. Hal ini berarti hasil dari larutan yang mengalami pemanasan tidak sesuai teori yang ada.


BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
            Dari hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh enzim amilase terhadap larutan pati dari kentang Solanum tuberosum baik yang dipanaskan maupun yang tidak dipanaskan memperoleh hasil yang sama yaitu pada menit ke-2, ke-4, dan ke-6 larutan berwarna agak coklat (++), sedangkan pada menit ke-8 dan ke-10 larutan berubah menjadi warna bening (+). Untuk larutan yang tidak mengalami pemanasan, hal ini sudah sesuai dengan teori karena larutan pada menit terakhir berwarna bening, dimana larutan bening ini menunjukkan bahwa enzim amilase bekerja dalam memecah pati. Sedangkan pada larutan yang mengalami pemanasan, hal ini tidak sesuai dengan teori karena seharusnya enzim pada larutan telah rusak akibat pemanasan.
V.2 Saran
            Sebaiknya para praktikan dalam melakukan praktikum harus lebih tertib lagi agar percobaan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan hasilnya pun lebih optimal.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Prospek dan Produksi Enzim Alfa-amilase dari Mikroorganisme. http://indobiogen.or.id/. Diakses pada tanggal 18 November 2010 pukul 16.00 WITA.

Anonim, 2010. Amilase. http://biogen.litbang.deptan.go.id/. Diakses pada tanggal 18 November 2008 pukul 16.00 WITA.

Dwidjoseputro, D., 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Latunra, A. Ilham, 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Mahbub, Hamdani, 2008. Deteksi dan Produksi Amilase. http://june-s.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 18 November 2010 pukul 16.00 WITA.

Poedjiadi, Anna, 2006. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Salisbury, F. B. dan Ross, C. W., 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press, Bandung.

Soewoto, H., 2001. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Widya Medika, Jakarta.

FISIOLOGI TUMBUHAN


LAPORAN PRAKTIKUM
FISIOLOGI TUMBUHAN

PERCOBAAN IX
PENGARUH INHIBITOR TERHADAP PERKECAMBAHAN BIJI


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Fase istirahat atau biasa dikenal dengan dormansi terdapat hampir pada semua tumbuhan, dimana tumbuhan tidak melakukan perkecambahan walaupun lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Salah satu penyebab dormansi adalah faktor kimia, dimana terdapat zat-zat pemghambat dalam tumbuhan tersebut. Zat pengahambat ini terdiridar berbagai macam jenis. Zat-zat penghambat inilah pada umumnya dikenal dengan nama inhibitor. Zat penghambat ini akan menunda terjadinya perkecambahan, meskipun kondisi lingkungan sudah sangat mendukung untuk terjadinya suatu proses perkecambahan.
Suatu tumbuhan yang disebabkan oleh faktor kimia dapat dipatahkan fase istirahatnya (dormansi), yaitu dengan mencuci biji tanaman tersebut sehingga zat inhibitornya dapat hilang. Secara alamiah, di alam proses pencucian ini biasanya dilakukan oleh air hujan. Selain itu, dormansi juga dapat dipatahkan dengan perlakuan suhu rendah atau pendinginan awal.
Berdasarkan hal di atas maka dilakukanlah percobaan ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang zat inhibitor.
I.2 Tujuan
            Tujuan dilakukannya percobaan ini, yaitu untuk melihat melihat pengaruh zat penghambat di dalam daging buah jeruk Citrus aurantifolia dan tomat Solanum lycopersicum terhadap perkecambahan gabah padi Oryza sativa.

I.3 Waktu dan Tempat
Percobaan ini berlangsung pada hari Jumat, tanggal 3 Desember 2010, pada pukul 14.00 – 17.00 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan ini dilakukan selama 1 minggu.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dormansi biji dapat disebabkan karena embrio yang belum masak, impermeabilitas kulit biji terhadap air, dan kadang-kadang terhadap oksigen. Penyebab lain terjadinya dormansi pada biji adalah adanya zat penghambat perkecambahan. Cairan buah tertentu seperti jeruk mengandung zat penghambat perkecambahan sehingga mencegah biji buah berkecambah ketika masih dalam tubuh (Latunra, 2010).
Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara lain adalah ammonia, abscisis acid, benzoic acid, ethylene, alkaloid, alkaloids lactone (antara lain coumarin). Coumarin diketahui menghambat kerja enzim. Enzim penting dalam perkecambahan (Sutopo, 2004).
Dormansi merupakan strategi benih-benih tumbuhan tertentu agar dapat mengatasi lingkungan sub-optimum guna mempertahankan kelanjutan spesiesnya. Terdapat berbagai penyebab dormansi benih yang pada garis besarnya dapat digolongkan kedalam adanya hambatan dari kulit benih (misalnya pada benih lamtoro karena kulit benih yang impermeabel terhadap air) atau bagian dalam benihnya (misalnya pada benih melinjo karena embrio yang belum dewasa). Benih yang mengalami dormansi organik ini tidak dapat berkecambah dalam kondisi lingkungan perkecambahan yang optimum (Sadjad, 1993).
Ahli fisiologi benih biasanya menetapkan perkecambahan sebagai suatu kejadian yang diawali dengan imbibisi dan diakhiri ketika radikula (akar lembaga) atau kotiledon atau hipokopotil memanjang atau muncul melewati kulit biji. Biji dapat tetap viabel (hidup), tetapi tak dapat berkecambah atau tumbuh karena beberapa penyebab, baik itu berasal dari luar maupun dari dalam biji itu sendiri. Dormansi pada biji ini dapat dihilangkan dengan berbagai cara, diantaranya dengan mencuci biji sehingga zat penghambatnya hilang. Cara lain yang dapat digunakan ialah dengan perlakuan suhu rendah atau pendinginan awal (Salisbury dan Ross, 1995).
Banyak biji, terutama biji Rocaceae dan beberapa konifer serta beberapa spesies herba akan berkecambah jika bijinya tidak terpajang pada suhu dan oksigen yang rendah dan dalam kondisi lembab selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Beberapa biji akan memberikan respon terbaik suhu harian bergantian antara tinggi dan rendah. Tindakan meletakkan biji selama musim dingin di dalam wadah berisi pasir dan gambut lembab dinamakan stratifikasi. Biji dalam wadah harus diberi suhu rendah sebelum berkecambah, dikenal dengan istilah perlakuan awal suhu rendah atau pendinginan awal (Prechilling). Pendinginan awal ini dilakukan di dalam inkubator atau ruang tumbuh (Salisbury dan Ross, 1995).
Asam absisat (ABA) merupakan salah satu faktor penghambat tumbuh (Inhibitor/ retardant) pada saat tanaman mengalami stress. Fitohormon ini digunakan untuk mengompakkan pertumbuhan batang agar tanaman terlihat sangat baik. Pada komposisi dan perlakuan tertentu dapat merangsang pertumbuhan tunas anakan dengan cepat dan serentak. ABA pergerakannya dalam tumbuhan sama dengan pergerakan giberelin, yaitu dapat diangkut secara mudah melalui xylem, floem, dan juga sel-sel parenkim di luar berkas pembuluh. Golongan inhibitor adalah: Paclobutrazol dan Ancymidol (Anonim, 2010).
Setiap jaringan tanaman memiliki hormon ABA yang dapat dipisahkan secara kromatografi Rf 0,9 dimana senyawa tersebut merupakan inhibitor B-kompleks. Senyawa ini mempengaruhi proses pertumbuhan, dormansi, dan absisi. Beberapa peneliti akhirnya juga menemukan senyawa yang sama yang menjadi zat penghambat tumbuh, yaitu asam absisat (ABA). Peneliti tersebut bernama Addicott et al dari California USA pada tahun 1967 melakukan penelitian pada tanaman kapas, dan Rothwell serta Wain pada tahun 1964 melakukan penelitian pada tanaman lupin (Wattimena 1992).
Zat pengatur tumbuhan yang diproduksi di dalam tanaman disebut juga hormon tanaman. Hormon tanaman yang dianggap sebagai hormon stress, dimana akan diproduksi dalam jumlah besar ketika tanaman mengalami berbagai keadaan rawan diantaranya yaitu ABA. Keadaan rawan tersebut meliputi kurangnya air, tanah bergaram, dan suhu dingin atau panas. ABA akan membantu tanaman mengatasi dari keadaan rawan tersebut (Salisbury dan Ross, 1995).
Asam absisat (ABA) dan asam-asam fenolik merupakan inhibitor endogen yang tersebar luas dalam tubuh tumbuhan. Dalam berbagai proses fisiologis senyawa tersebut berinteraksi dengan auksin, giberelin, dan sitokinin dengan hubungan yang lebih bersifat antagonisme dari pada sinergisme. Inhibitor (zat penghambat tumbuh) ini dapat dijumpai pada organ-organ daun, batang, rhizoma, ubi, tunas, tepung sari, buah, embrio, endosperm, maupun kulit biji, sehingga keberadaan senyawa-senyawa tersebut akan menghambat proses pertumbuhan tunas (pucuk), perkecambahan, pembungaan, serta mempercepat proses penuaan atau pengguguran daun, bunga, dan buah (Anonim, 2010).
Dormansi pada biji merupakan suatu peristiwa dimana biji tertahan atau terhambat untuk berkecambah. Dormansi pada biji ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya (Goldworthy, 1992):
1. Biji yang belum matang, dalam hal ini adalah embrio yang masih immature dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya) embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya, embrio belum mengalami diferensiasi atau masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.
2. Impermiabilitas kulit biji terhadap air dan oksigen, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
·      Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, dan endocarp.
·      Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
·      Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik.
·      Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji, yaitu mikrofil, kulit biji, raphe/ hilum, dan strophiole. Adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum.
·      Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.
Dormansi karena immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat kimia.
3. Kondisi lingkungan yang tidak mendukung untuk terjadinya suatu proses perkecambahan.
Senyawa penghambat kimia, sering juga terdapat pada biji dan sering kali zat penghambat ini harus dikeluarkan terlebih dahulu sebelum perkecambahan dapat berlangsung. Di alam, bila curah hujan cukup akan dapat mencuci zat penghambat biji ini, dan tanah yang cukup basah dapat menjadi tempat bagi kecambah baru untuk hidup. Hal ini khususnya penting bagi tanaman digurun, karena kelembaban udara merupakan faktor yang sangat penting dibandingkan faktor lainnya, seperti suhu. Vest, pada tahun 1972, mendapatkan bahawa biji Atriplex mengandung cukup banyak natrium klorida (NaCl) untuk menghambat perkecambahan biji secara osmotik. Biasanya senyawa penghambat ini lebih rumit dibandingkan dengan garam dapur biasa dan penghambat mewakili berbagai macam kelompok senyawa organik. Beberapa diantaranya adalah kompleks pelepas sianida (khususnya biji Rosaceae). Bahan penting lainnya umumnya mencakup asam organik, lakton tak jenuh khususnya kumarin, asam parasorbat dan protoamenomin, aldehid, minyak esensial, alkaloid, dan senyawa fenol (Anonim, 2002).
Asam abisat (ABA) sering terdapat pada biji dorman, tetapi kebanyakan sudah hilang jauh sebelum dormansi berakhir. Jadi ABA, mungkin merupakan pengahambat kuat bagi perkecambahan bila senyawa tersebut masih ada, namun tidak menutup kemungkinan banyak senyawa lain yang menjadi penghambat penyebab dormansi biji (Anonim, 2002).
Penghambat perkecambahan ini tidak hanya berasal atau terdapat di biji, tetapi ada juga yang terdapat di daun, akar dan bagian tumbuhan lain. Bila terbawa keluar tumbuhan atau dilepaskan selama pembusukan sampah, senyawa penghambat dapat menghambat perkecambahan biji atau perkembangan akar disekitar tanaman induk. Senyawa yang dihasilkan oleh suatu tumbuhan yang dapat mengganggu tumbuhan lain dinamakan alelopati. Bahkan ada beberapa bahan yang dihasilkan oleh organisme lain yang bertindak sebagai pemacu perkecambahan, contohnya nitrat adalah pemacu perkecambahan yang sering atau lazim digunakan di laboratorium fisiologi benih dan senyawa ini dihasilkan dari sisa-sisa pembusukan tumbuhan atau hewan (Dwidjoseputro, 1992).



BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Alat
            Alat yang digunakan pada percobaan ini, yaitu nampan, pisau, dan saringan.
III.2  Bahan
            Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu gabah padi Oryza sativa, jeruk nipis Citrus aurantifolia, tomat Solanum lycopersicum, tissue, dan aquadest.
III.3 Cara Kerja
1.        Mencuci buah tomat Solanum lycopersicum dan jeruk Citrus aurantifolia sampai bersih.
2.        Membelah tomat Solanum lycopersicum dan jeruk nipis Citrus aurantifolia menggunakan pisau, lalu diperas dan cairan yang diperoleh disaring dan ditaruh dalam nampan.
3.        Membuat 3 kelompok biji gabah padi Oryza sativa yang masing-masing sebanyak 20 biji.
4.        Kelompok pertama biji gabah dikecambahkan dalam cairan buah tomat Solanum lycopersicum, kelompok kedua biji gabah dikecambahkan dalam cairan jeruk nipis Citrus aurantifolia, dan kelompok ketiga biji gabah dikecambahkan dalam aquadest sebagai kontrol.
5.        Setiap hari cairan buah diganti dengan yang baru, tetapi biji gabah harus dicuci dahulu sampai bersih.
6.        Melakukan pengamatan selama 1 minggu. Kemudian catat hasilnya pada tabel pengamatan.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
Tabel Pengamatan :
Hari/Tgl
Jumlah biji yang berkecambah
Air jeruk
Air tomat
Air biasa
04 Des 2010
05 Des 2010
06 Des 2010
07 Des 2010
08 Des 2010
09 Des 2010
10 Des 2010
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2
4
6
9

IV.2 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan dengan merendam biji padi Oriza sativa kedalam nampan yang berisi sari tomat Solanum lycopersicum, sari jeruk Citrus aurantifolia, dan air sebagai kontrol, masing-masing berisi 20 biji. Perendaman ini dilakukan selama satu minggu dengan mengganti rendaman sari tomat dan jeruk setiap hari.
Setelah beberapa hari biji padi yang terendam pada sari tomat tidak mengalami pertumbuhan. Hal ini berarti zat penghambat yang terkandung dalam sari tomat, asam absisat, mampu menghambat pertumbuhan biji padi tersebut. Begitupun dengan biji padi yang terendam pada sari jeruk, satu pun tidak mengalami pertumbuhan. Ini disebabkan pada sari jeruk terdapat zat penghambat yatu asam ascorbat sehingga menghambat pertumbuhan biji padi.
Biji padi Oriza sativa yang terendam dalam air dapat mengalami pertumbuhan, yaitu mulai pada hari keempat hingga hari ketujuh. Biji padi ini dapat tumbuh karenakan air tidak memiliki zat penghambat sehingga biji padi Oriza sativa dapat tumbuh.



BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Pada percobaan ini dapat diperoleh kesimpulan yaitu buah tomat Solanum lycopersicum dan jeruk Citrus aurantifolia memiliki zat penghambat yang dapat menghambat pertumbuhan biji padi. Zat penghambat yang terdapat pada sari tomat yaitu asam absisat dan pada sari jeruk yaitu asam ascorbat. Sedangkan pada air (control), biji padi Oriza sativa dapat tumbuh karena pada air tidak mengandung zat penghambat.
V.2 Saran
Sebaiknya laboratorium yang akan digunakan selalu dalam keadaan bersih dan rapi serta peralatan yang digunakan dalam praktikum sebaiknya dilengkapi sehingga praktikum dapat berjalan lancar.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Zat Penghambat Tumbuhan (Inhibitor). http://pustaka.ut.ac.id/. Diakses pada tanggal 26 November 2010 pukul 16.00 WITA.

Anonim, 2002. Fenomena Vivipary Labu Siam. http://tumoutou.net/. Diakses pada tanggal 26 November 2010 pukul 16.00 WITA.

Dwidjoseputro, D., 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Goldsworthy, F. R., dan Fisher, 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. UGM Press, Yogyakarta.

Latunra, A. Ilham, 2010. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Salisbury, F. B., dan Ross, C. W., 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press, Bandung.

Wattimena, G. A., 1998. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman Bogor. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor.